BATAM – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau memaparkan capaian impresif perekonomian daerah yang berhasil melampaui rata-rata nasional. Dalam acara Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia yang digelar di Batam, Rabu (28/1/2026), Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, membedah indikator makroekonomi tahun 2025 serta prospek (outlook) menuju tahun 2026.
Pertumbuhan Agresif di Atas Nasional
Ardhienus mengungkapkan bahwa pada triwulan III 2025, ekonomi Kepri mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,44% dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara kumulatif (c-to-c), pertumbuhan mencapai 6,60%, yang secara otomatis menobatkan Kepulauan Riau sebagai provinsi dengan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi di seluruh wilayah Sumatera.
Berbeda dengan struktur ekonomi nasional yang umumnya digerakkan oleh konsumsi rumah tangga, Ardhienus menekankan bahwa motor penggerak utama di Kepri adalah investasi.
"Jika nasional lebih banyak dari sisi konsumsi, di Kepulauan Riau ekonomi kita justru ditopang kuat oleh sektor investasi, baru kemudian diikuti oleh konsumsi," jelasnya di hadapan para undangan. Adapun sektor lapangan usaha yang menjadi tulang punggung utama meliputi industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, dan perdagangan.
Diversifikasi Sektor: Menuju Ekonomi Berkelanjutan
Guna mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif seperti pertambangan, BI mendorong pengembangan tiga sektor potensial untuk masa depan Kepri yang lebih inklusif:
- Pariwisata Regeneratif: Kepri telah resmi ditetapkan sebagai destinasi pariwisata regeneratif oleh Kementerian Pariwisata, sebuah konsep yang tidak hanya melestarikan namun juga memulihkan lingkungan dan budaya lokal.
- Industri Kreatif: Sektor ini menjadi prioritas nasional dalam peta jalan menuju Indonesia Emas 2045 yang disusun Bappenas.
- Industri Digital: Diproyeksikan tumbuh pesat seiring dengan melonjaknya permintaan infrastruktur data center di wilayah Kepri.
UMKM: Penggerak yang Menghadapi Tantangan
Sektor UMKM, khususnya di bidang kriya, fesyen, dan kuliner, diakui sebagai penggerak utama ekonomi lokal. BI terus melakukan intervensi melalui pelatihan, business matching, hingga promosi perdagangan agar UMKM Kepri mampu menembus pasar ekspor. Namun, Ardhienus menggarisbawahi tiga tantangan krusial yang harus segera diatasi:
- Terbatasnya akses pembiayaan formal.
- Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih relatif rendah.
- Minimnya literasi digital dan akses pasar yang luas.
Stabilitas Inflasi di Tengah Pertumbuhan Tinggi
Meski ekonomi tumbuh melesat—yang biasanya dibarengi dengan kenaikan harga—Provinsi Kepri berhasil menjaga inflasi pada level 3,47% (y-on-y). Angka ini tetap berada dalam sasaran target 2,5% ± 1%, meskipun sudah mendekati batas atas.
Keberhasilan ini diatribusikan pada efektivitas Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) melalui strategi 4K: Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, Ketersediaan pasokan, dan Komunikasi efektif yang dijalankan secara sinergis oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
"Ini adalah bukti bahwa sinergi kebijakan moneter dan fiskal di daerah berjalan efektif untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi," pungkas Ardhienus.(ant)
