Inflasi Kepri tetap berada dalam jalur aman meski pertumbuhan ekonomi daerah ini melaju tinggi. Kondisi tersebut tidak terjadi secara kebetulan, melainkan lahir dari kombinasi kekuatan pasar, strategi pengendalian yang konsisten, serta posisi geografis Kepri yang strategis di kawasan regional.
Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi yang Sejalan
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Rony Widijarto P, akhir Desember 2025 lalu menjelaskan bahwa, pemerintah bersama Bank Indonesia memang menetapkan sasaran inflasi nasional di angka 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen. Menurutnya, rentang tersebut sengaja dibuat agar tetap relevan dengan karakter daerah yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi seperti Kepulauan Riau.
Ia menegaskan bahwa ketika ekonomi daerah tumbuh cepat, maka tekanan inflasi cenderung ikut meningkat. Oleh karena itu, selama inflasi Kepri masih berada di bawah batas atas 3,5 persen, kondisi tersebut masih tergolong aman dan terkendali.
Inflasi Kepri Masih di Bawah Batas Aman
Rony menyampaikan bahwa hingga data terakhir November 2025, inflasi Kepri tercatat di angka 3 persen, sementara inflasi nasional berada di level 2,72 persen. Ia menilai selisih tersebut masih wajar dan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Kepri yang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Ia juga menyebutkan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data inflasi Desember dan inflasi tahunan 2025 pada awal Januari. Namun, Bank Indonesia tetap optimistis inflasi Kepri akan berada di dalam sasaran.
Kekuatan Pasar Jadi Kunci Stabilitas
Meski Kepri bukan daerah produsen pangan, Rony menilai kekuatan pasar menjadi faktor utama yang menjaga inflasi tetap stabil. Ia menyebut hampir seluruh kebutuhan pangan, seperti beras, bawang merah, dan cabai, masih bergantung pada pasokan luar daerah, kecuali sektor perikanan.
Namun, ia menegaskan bahwa pasar Kepri sangat kuat dan konsisten, sehingga arus barang mengalir secara alami mengikuti hukum ekonomi.
Dampak Posisi Strategis dan Singapura
Selain konsumsi domestik, Kepri juga diuntungkan oleh kedekatannya dengan Singapura. Rony menilai Singapura sebagai negara dengan pendapatan per kapita tinggi dan nilai tukar kuat menjadi pasar yang sangat potensial, meskipun negara tersebut tidak memiliki lahan produksi.
Menurutnya, kombinasi pertumbuhan ekonomi Kepri yang mencapai 6,6 persen, kekuatan pasar, serta kedekatan geografis dengan negara tetangga menjadikan stabilitas inflasi tetap terjaga.(bos)
