Menatap Ekonomi Kepri 2026, Bank Indonesia Siapkan Strategi Resiliensi dan Inovasi Digital

 


BATAMRAMAH.COM  – Setelah menutup tahun 2025 dengan capaian pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam satu dekade sebesar 6,94 persen, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau (Kepri) kini mulai mematangkan strategi untuk menjaga momentum pertumbuhan di tahun 2026.

Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto, memproyeksikan ekonomi Kepri tetap tumbuh optimistis di angka 6,4 hingga 7,2 persen (year on year).

​Rony menekankan bahwa kunci keberhasilan di tahun 2026 terletak pada kemampuan daerah dalam mengoptimalkan potensi domestik dan memperkuat ekosistem digital di tengah dinamika global.

​Strategi Penguatan Konsumsi dan UMKM

Salah satu strategi utama BI Kepri adalah mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif. Rony mencatat adanya celah antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan tingkat konsumsi masyarakat yang perlu terus didorong.

​"Kita memiliki ruang besar untuk meningkatkan belanja masyarakat. Strateginya adalah dengan memperkuat peran UMKM agar masuk ke dalam rantai nilai industri utama di Kepri. Jika UMKM lokal bisa mendukung industri ekspor, maka akan tercipta perputaran ekonomi yang lebih merata dan menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal," ujar Rony.

​Sebagai langkah konkret dalam waktu dekat, BI Kepri akan menggelar Kepulauan Riau Ramadan Fair (Kurma). Event ini dirancang bukan sekadar seremoni, melainkan strategi untuk menjaga daya beli sekaligus memastikan stabilitas harga pangan melalui akses yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

​Digitalisasi sebagai Motor Penggerak

​Memasuki 2026, digitalisasi sistem pembayaran menjadi pilar strategis lainnya. BI Kepri melalui Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) menargetkan elektronifikasi transaksi yang lebih luas, mulai dari pajak daerah hingga retribusi parkir.

​"Ke depan, kita juga mengantisipasi perluasan kerjasama cross-border QR payment. Mengingat posisi strategis kita yang bertetangga dengan Singapura dan Malaysia, kemudahan transaksi antarnegara menggunakan QR code akan menjadi katalisator bagi sektor pariwisata kualitas (quality tourism)," jelas Rony.

​Mitigasi Risiko dan Literasi Keuangan

​Selain strategi pertumbuhan, Rony juga menekankan pentingnya strategi perlindungan. Di tengah masifnya transaksi digital, BI Kepri memperkuat sinergi dengan OJK dan penegak hukum untuk memitigasi risiko judi online, pinjol ilegal, dan penipuan digital.

​"Pertumbuhan ekonomi tidak boleh tergerus oleh kerugian masyarakat akibat rendahnya literasi digital. Kami mengedepankan prinsip 'PeKA' (Peduli, Kenali, Adukan) serta edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah hingga ke pelosok pulau agar stabilitas tetap terjaga," tegasnya.

​Faktor Penentu (Game Changer) 2026

​Rony meyakini ada tiga faktor penentu yang akan menjamin resiliensi ekonomi Kepri tahun ini:

  • ​Keberlanjutan Proyek Strategis Nasional (PSN): Pembangunan infrastruktur konektivitas yang terus berjalan.
  • ​Transformasi Industri Hijau: Pengembangan kawasan industri yang ramah lingkungan sebagai daya tarik investasi baru.
  • ​Pengendalian Inflasi yang Konsisten: Sinergi TPID dalam menjaga pasokan pangan di wilayah kepulauan melalui Kerjasama Antar Daerah (KAD).

​"Dengan sinergi yang kuat antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan pelaku usaha, kami optimis ekonomi Kepulauan Riau akan semakin tangguh dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera," pungkas Rony.(bos)

Lebih baru Lebih lama