BATAMRAMAH.COM: Sektor pertanian jadi tulang punggung ekonomi dan terus menunjukkan peran strategisnya dalam menjaga stabilitas nasional. Di tengah dinamika global dan tekanan di berbagai sektor, pertanian justru tampil sebagai penopang utama sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi.
Hal ini tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis Bank Indonesia, yang menunjukkan aktivitas dunia usaha tetap berada di zona positif sepanjang triwulan I 2026.
Kinerja Usaha Tetap Positif di Awal Tahun
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Anton Pitono, menyebut kinerja dunia usaha tetap terjaga dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,11 persen.
Meski sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya, angka ini tetap menunjukkan aktivitas ekonomi yang solid. Mayoritas sektor usaha mencatat kinerja positif, termasuk jasa keuangan, industri pengolahan, perdagangan, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Kondisi ini tidak lepas dari meningkatnya permintaan masyarakat selama periode hari besar keagamaan, seperti Imlek, Nyepi, Ramadhan, hingga Idul Fitri, yang beriringan dengan musim panen.
Produksi Meningkat, Permintaan Menguat
Seiring meningkatnya aktivitas ekonomi, kapasitas produksi terpakai juga mengalami kenaikan menjadi 73,33 persen. Angka ini menunjukkan dunia usaha tetap bergerak aktif dan responsif terhadap permintaan pasar.
Peningkatan tersebut terutama ditopang oleh sektor pertanian dan industri pengolahan yang mampu menjaga ritme produksi di tengah tingginya kebutuhan masyarakat.
Di sisi lain, kondisi keuangan dunia usaha tetap stabil, baik dari sisi likuiditas maupun profitabilitas, serta didukung akses pembiayaan yang semakin mudah.
Proyeksi Triwulan II Semakin Optimistis
Memasuki triwulan II 2026, Bank Indonesia memproyeksikan kinerja dunia usaha akan semakin meningkat. SBT diperkirakan naik ke level 14,80 persen, dengan sektor pertanian sebagai pendorong utama.
Optimisme ini didukung oleh berlanjutnya musim panen komoditas pangan dan tanaman perkebunan, yang akan menjaga pasokan sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi di daerah.
Pertanian Jadi Motor Penggerak Ekonomi
Menanggapi capaian tersebut, Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa sektor pertanian kini tidak hanya berperan sebagai penyangga, tetapi juga menjadi motor utama ekonomi nasional.
Ia menilai pertanian mampu bertahan bahkan saat sektor lain mengalami tekanan, sehingga menjadi solusi dalam menjaga stabilitas ekonomi.
“Pertanian hari ini bukan hanya penyangga, tetapi menjadi penggerak utama ekonomi nasional,” tegasnya.
Strategi Terintegrasi Dorong Kinerja
Amran menjelaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari strategi terintegrasi yang dijalankan pemerintah. Berbagai langkah dilakukan secara konsisten, mulai dari percepatan tanam, optimalisasi lahan, pompanisasi, hingga perbaikan irigasi dan distribusi pupuk.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan petani tetap terlindungi dan pasokan pangan tetap tersedia.
Ekspor Naik, Impor Ditekan
Kinerja sektor pertanian juga terlihat dari sisi perdagangan. Pada 2025, nilai ekspor pertanian mengalami kenaikan signifikan hingga Rp166,71 triliun atau tumbuh 28,26 persen.
Sebaliknya, impor justru turun sebesar Rp41,68 triliun atau terkoreksi 9,66 persen. Kondisi ini menunjukkan daya saing produk pertanian Indonesia semakin kuat di pasar global.
Dengan kata lain, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mulai memperluas pasar ke luar negeri.
Cadangan Pangan Tertinggi Sepanjang Sejarah
Dari sisi ketahanan pangan, capaian juga terlihat sangat kuat. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) diproyeksikan menembus angka 5 juta ton, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.
Stok yang melimpah ini tidak hanya memberikan rasa aman bagi masyarakat, tetapi juga membantu menjaga stabilitas harga di pasar.
“Ini bukan hanya soal angka, tapi soal rasa aman bagi rakyat Indonesia,” ujar Amran.
Kesejahteraan Petani Ikut Meningkat
Dampak positif juga dirasakan langsung oleh petani. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mencapai 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
Angka ini menunjukkan daya beli dan pendapatan petani meningkat signifikan, sekaligus menjadi indikator bahwa sektor pertanian tidak hanya tumbuh, tetapi juga menyejahterakan pelakunya.
Pertumbuhan Tertinggi dalam 25 Tahun
Secara makro, sektor pertanian mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,74 persen pada 2025. Ini menjadi angka tertinggi dalam 25 tahun terakhir.
Capaian ini menegaskan posisi sektor pertanian sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Fondasi Ekonomi yang Semakin Kokoh
Dengan berbagai indikator yang terus menguat, sektor pertanian kini tampil sebagai fondasi ekonomi yang semakin kokoh. Tidak hanya menjaga ketahanan pangan, sektor ini juga menjadi motor penggerak pertumbuhan dan kesejahteraan.
Ke depan, pemerintah optimistis pertanian akan terus menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Kalau pertanian kuat, ekonomi nasional pasti kuat,” tutup Amran.
Sumber: Antara
.jpeg)