ALFI Batam Sebut Skema Direct Billing Potong Biaya Logistik Hingga 30 Persen



Batamramah, BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam terus mempercepat langkah transformasi Terminal Peti Kemas Pelabuhan Batu Ampar melalui penerapan skema direct billing atau pembayaran langsung. 

Kebijakan ini dirancang secara khusus untuk memotong birokrasi, meningkatkan transparansi, serta memangkas pengeluaran bagi para pelaku usaha logistik. Penerapan sistem baru tersebut dibahas intensif dalam forum Sosialisasi dan Diskusi Transformasi Pelabuhan Batu Ampar yang mempertemukan jajaran BP Batam, PT Batam Terminal Petikemas, serta para pelaku jasa kepelabuhanan di Kota Batam, Rabu (1/7/2026).

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kota Batam, Yasser Hadeka Daniel, menyambut positif kebijakan ini karena skema tersebut memungkinkan perusahaan freight forwarder bertransaksi langsung dengan operator terminal tanpa perantara. 

"Selama ini transaksi kami dilakukan melalui pihak kedua sehingga terdapat biaya tambahan. Dengan direct billing, kami dapat bertransaksi langsung dengan terminal sehingga biaya perantara dapat dihilangkan," kata Yasser saat memberikan keterangan di Batam. Ia menilai sistem ini tidak memicu kenaikan tarif, melainkan berpotensi memotong biaya logistik hingga 30 persen serta mempercepat layanan bongkar muat berkat dukungan peralatan modern seperti Ship to Shore (STS) Crane.

Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, menjelaskan bahwa perombakan skema ini mutlak dilakukan demi menyederhanakan proses administrasi kepelabuhanan yang mengedepankan akuntabilitas. Melalui sistem baru ini, seluruh pembayaran layanan terminal langsung disetor kepada operator sesuai dengan jenis jasa yang diterima oleh para pengguna. 

"Transformasi ini bertujuan menciptakan sistem pelayanan yang lebih sederhana, terbuka, terdokumentasi dengan baik, serta memberikan kepastian layanan bagi seluruh pengguna jasa," terang Basori yang juga mengharapkan dukungan kolaborasi penuh dari asosiasi pelaku usaha.

Senada dengan hal itu, Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, memaparkan bahwa pembenahan fasilitas pelabuhan dan digitalisasi sistem mulai berbuah manis pada lonjakan rapor operasional kepelabuhanan Batam sepanjang Semester I. Hingga akhir Juni, realisasi penerimaan Direktorat Pengelolaan Kepelabuhanan berhasil meroket di angka Rp219,75 minal atau setara dengan 55 persen dari target tahunan yang dipatok sebesar Rp401,86 miliar.

"Angka tersebut meningkat 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang sebesar Rp189 miliar," ungkap Benny.

Dari sisi operasional makro, jumlah kunjungan kapal barang dan penumpang di Batam melonjak mencapai 54.876 call atau tumbuh 15 persen dengan total bobot kotor kapal meningkat 18 persen menjadi 34,87 juta Gross Tonnage. Tren positif ini diikuti oleh volume peti kemas yang ditangani pelabuhan di bawah BP Batam yang menyentuh angka 359.944 TEUs atau mengalami kenaikan sebesar 15 persen. 

Benny menguraikan bahwa aktivitas ekspor-impor mendominasi pergerakan peti kemas di Batam dengan volume mencapai 273.004 TEUs atau tumbuh sebesar 18 persen, sedangkan untuk sektor peti kemas domestik tumbuh merangkak 6 persen di angka 86.940 TEUs.

Arus barang umum atau general cargo juga mencatatkan pertumbuhan yang kokoh hingga menyentuh 5,42 juta ton atau meningkat 12 persen, sejalan dengan pergerakan penumpang ferry domestik dan internasional yang mencapai 4,64 juta orang atau naik 8 persen. 

BP Batam optimistis bahwa integrasi antara modernisasi infrastruktur fisik dan penguatan sistem direct billing ini akan terus mengungkit daya saing logistik internasional Batam, di mana kapasitas Terminal Peti Kemas Batu Ampar ke depan akan dipacu secara berkala hingga mampu menampung target optimal sebesar 2 juta TEUs.
Lebih baru Lebih lama