![]() |
| Dewan Gubernur Bank Indonesia |
BATAMRAMAH.COM - Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen, tetapi melonggarkan likuiditas perbankan untuk mendorong kredit dan pertumbuhan ekonomi. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5 persen dan mempertahankan Lending Facility di level 6,50 persen.
Salah satu langkah utama BI ialah menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap mulai 1 November 2026. GWM bank umum konvensional turun dari 9 persen menjadi 7 persen, sedangkan bank umum syariah dan unit usaha syariah turun dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen. Kebijakan ini diharapkan memperkuat likuiditas perbankan dan memperluas ruang penyaluran kredit ke sektor riil.
Di tengah tekanan global, BI juga memperkuat insentif lindung nilai untuk menarik modal asing dan menjaga stabilitas rupiah. Pada 20 Oktober 2026, rupiah tercatat Rp17.985 per dolar AS, melemah 0,61 persen dibandingkan posisi akhir September. Sejak insentif diberlakukan pada Juni 2026, kebijakan tersebut telah menarik aliran modal asing sebesar US$9,9 miliar.
BI tetap menargetkan inflasi 2,5 persen, dengan toleransi plus-minus 1 persen, pada 2026 dan 2027. Inflasi tahunan pada September tercatat 3,28 persen. Sementara itu, ekonomi Indonesia diprakirakan tumbuh 4,9–5,7 persen pada 2026, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor nonmigas.
Dari sisi perbankan, kredit tumbuh 13,26 persen secara tahunan pada September 2026. BI juga mempertahankan kebijakan uang muka nol persen untuk kendaraan bermotor baru dan rasio pembiayaan properti hingga 100 persen bagi bank yang memenuhi persyaratan, masing-masing sampai 31 Desember 2027.
Di sektor digital, BI memperluas agenda pembayaran lintas negara melalui penjajakan QRIS dengan Timor Leste dan Hong Kong pada triwulan IV 2026. Volume transaksi pembayaran digital mencapai 18,09 miliar transaksi pada triwulan III 2026, tumbuh 39,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, BI berupaya menjaga stabilitas rupiah sekaligus memastikan likuiditas tetap mendukung aktivitas usaha. Tantangannya ialah menyeimbangkan tekanan eksternal dengan kebutuhan mendorong kredit dan pertumbuhan ekonomi domestik.***
