BatamRamah.com Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

"Dilihat Dulu Fotonya, kalau Cocok Dibalik, di Belakang Ini Ada Nama dan Nomor Telepon Pemilik Foto"




Batamramah.com, Siang itu, Sanusi yang memakai sarung dan kopiah duduk di teras rumahnya. Di dekatnya, terlihat sebuah spanduk berukuran 1x1,5 meter bertuliskan "Biro Jodoh".


Warna tulisan merah membuat spanduk itu terlihat jelas dari kejauhan. Di bawah tulisan "Biro Jodoh", tertulis "gadis, jejaka, duda, dan janda", dengan ukuran huruf lebih kecil dan warna tidak menonjol.


Di sudut bawah spanduk itu tertulis "P. SANUSI". Itu adalah spanduk biro jodoh yang viral di media sosial TikTok beberapa waktu terakhir.


Sanusi, pria berusia 79 tahun itu, terlihat sangat ramah. Ia mengaku baru tiga bulan lalu memasang spanduk yang belakangan viral tersebut.


Meski begitu, soal perjodohan, Sanusi telah menggeluti aktivitas itu sejak lama.


"Tapi saya menjodohkan orang sudah lama," ujar Sanusi menggunakan bahasa Jawa di teras rumahnya, Desa Sidodadi, Kecamatan Garum, Blitar, Jawa Timur, Sabtu (13/11/2021) siang.


Sanusi buru-buru menuju sebuah lemari di ruang tengah rumahnya. Tiba-tiba, ia kembali dengan beberapa lembar foto ukuran postcard.


Sembari tertawa, ia menyebut, foto-foto itu merupakan milik kliennya yang belum mendapatkan jodoh. Terlihat tujuh foto yang dipajang Sanusi, lima laki-laki dan dua perempuan.


Sanusi memasang foto itu di meja. Begitulah cara kakek itu memulai proses perjodohan bagi warga yang datang kepadanya.


"Dilihat dulu fotonya, kalau cocok balik fotonya. Di belakang ini ada nama dan nomor telepon pemilik foto," tutur Sanusi yang pernah menjadi marbot di sebuah masjid di Kota Blitar itu.


Jika klien tertarik dengan salah satu foto, Sanusi akan memintanya mencatat nomor ponsel di belakang foto tersebut.


Sanusi pun akan meminta klien itu menelepon dan mengundang si empunya foto untuk bertemu di rumah Sanusi.


"Kalau bisa saat itu juga ya lebih baik. Kalau tidak bisa ya lain waktu. Tapi saya selalu minta mereka bertemu di sini dengan saya saksikan," ujarnya.


Sejak hampir tiga bulan lalu memasang spanduk di teras rumahnya, Sanusi mengeklaim sudah lima pasangan yang menggunakan jasanya berjodoh dan menikah.


Jumlah itu tak termasuk dengan pasangan yang berjodoh sebelum Sanusi memasang spanduk.


Biaya pendaftaran dan persyaratan


Untuk menggunakan jasa Sanusi, warga harus membayar uang pendaftaran sebesar Rp 100.000. Setelah uang pendaftaran dibayar, klien harus menyerahkan foto diri dan fotokopi kartu tanda penduduk (KTP).


Sanusi juga meminta kliennya menuliskan nama dan nomor telepon di belakang foto yang mereka serahkan.


Klien yang menemukan jodoh berkat usaha Sanusi biasanya memberikan bonus tambahan. Sanusi mengaku tak pernah memasang tarif jika perjodohan itu sukses.


"Seikhlasnya. Tapi biasanya ngasih Rp 300.000 setiap pasangan," ujarnya.


Selama berkecimpung sebagai "mak comblang", Sanusi lebih banyak menerima klien laki-laki.


"Saya sendiri heran. Kadang yang datang perempuan, perempuan, terus perempuan. Berapa hari yang datang laki-laki terus," ujarnya.


Sanusi kembali memperlihatkan foto tujuh klien yang belum mendapatkan jodoh, mayoritas merupakan laki-laki.


Sanusi menilai, hal itu mungkin terjadi karena perempuan cenderung tidak terang-terangan mencari jodoh.


Memiliki "bakat" menjodohkan orang


Sanusi tidak tiba-tiba membuka jasa pelayanan biro jodoh. Ia mengaku sudah puluhan tahun memiliki "bakat" menjodohkan orang.


Sebelum berkecimpung sebagai "mak comblang", Sanusi telah merantau ke sejumlah daerah, bahkan hingga luar Pulau Jawa.


Pengalaman di perantauan membuat Sanusi bisa berkomunikasi dengan orang dari berbagai latar belakang usia dan status sosial. Sanusi dikenal supel.


Menurutnya, bakat menjodohkan orang itu muncul saat menjadi tukang ojek di Pasar Kutukan, sebuah pasar tradisional yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya.


Selama bekerja sebagai tukang ojek di pasar itu, Sanusi memiliki banyak kenalan. Saat bekerja sebagai tukang ojek itu "bakat" menjodohkan orang terasah.


Sanusi kerap membantu perjodohan beberapa orang. Ia pun menjalani aktivitas itu secara alami.


Namun, sejak motornya ditarik toko karena dirinya menunggak angsuran, Sanusi tak lagi mengojek.


Melalui proses yang panjang, orang banyak mengenal dirinya sebagai tukang mencarikan jodoh.


"Kalau perempuan, biasanya yang minta tolong ke saya orangtuanya. Minta tolong anaknya dicarikan jodoh," ujarnya.


Biro jodoh lewat HP


Sanusi tak menampik usaha jasa pencari jodoh tradisional seperti yang digelutinya lambat laun akan hilang.


Saat ini, orang bisa dengan mudah mencari pasangan. Ada banyak aplikasi di ponsel pintar yang bisa digunakan mencari jodoh.


"Katanya orang sekarang bisa cari jodoh lewat HP," ujar Sanusi yang buta huruf itu.


Meski begitu, Sanusi tak gentar. Ia punya banyak pengalaman dalam menjodohkan orang. Salah satu hal yang dipelajarinya adalah tentang adanya siklus "musim kawin".


Kata Sanusi, manusia juga terikat pada siklus alami musim kawin yang datang pada musim penghujan.


Atas dasar itulah, Sanusi memaksakan diri membuka biro jodoh sejak 2,5 bulan lalu menjelang datangnya "musim kawin".


(dekk)


sumber: kompas.com

www.BatamRamah.com/