Inflasi Kepri pada Februari 2026 kembali bergerak naik setelah sebelumnya mencatat deflasi. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepulauan Riau meningkat 0,44 persen secara bulanan (mtm), sementara secara tahunan mencapai 3,54 persen (yoy).
Kondisi ini menunjukkan perubahan arah dibandingkan Januari 2026 yang mengalami deflasi 0,09 persen (mtm). Meski demikian, capaian inflasi tahunan Kepri masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 4,76 persen (yoy). Bahkan, Kepri tercatat sebagai provinsi dengan inflasi tahunan terendah kelima secara nasional dan terendah ketiga di wilayah Sumatera.
Batam, Tanjungpinang, dan Karimun Kompak Mengalami Inflasi
Tiga daerah Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kepri turut mencatat kenaikan harga. Batam mengalami inflasi 0,40 persen (mtm) atau 3,13 persen (yoy). Tanjungpinang mencatat inflasi tertinggi secara bulanan sebesar 0,99 persen (mtm) atau 5,83 persen (yoy). Sementara itu, Karimun mengalami inflasi tipis 0,01 persen (mtm) atau 4,13 persen (yoy).
Pergerakan harga di tiga wilayah ini mencerminkan meningkatnya tekanan konsumsi masyarakat, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Harga Emas dan Pangan Jadi Pendorong
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Februari 2026, yaitu 2,10 persen (mtm) dengan andil 0,16 persen. Kenaikan harga emas akibat ketidakpastian geopolitik global mendorong lonjakan pada kelompok ini.
Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman juga naik 0,87 persen (mtm) dengan andil 0,08 persen. Kenaikan harga nasi dengan lauk menjadi pemicu utama karena harga bahan baku pangan ikut meningkat.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut mengalami inflasi 0,40 persen (mtm) dengan andil 0,11 persen. Harga beras dan cabai merah naik seiring meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Ramadan.
Sinergi Pengendalian Inflasi Terus Diperkuat
Di tengah tekanan harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama Bank Indonesia terus menjaga stabilitas. Melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), mereka memperkuat langkah pengendalian dari hulu hingga hilir.
Program ini mencakup penguatan produksi pangan untuk menghadapi cuaca ekstrem, pengendalian harga jangka pendek, serta sinergi pusat dan daerah dalam mendukung program prioritas pemerintah.
Sepanjang Februari 2026, TPID melaksanakan High Level Meeting (HLM) di Lingga dan Bintan, menyebarkan iklan layanan masyarakat untuk menjaga ekspektasi inflasi, menggelar edukasi publik, serta mengadakan operasi pasar dan pasar murah serentak.
Waspadai Ramadan dan Idulfitri
Memasuki Maret 2026, tekanan inflasi berpotensi meningkat akibat tren kenaikan harga emas dunia serta lonjakan permintaan pangan dan tiket pesawat menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Namun demikian, musim panen cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah diperkirakan dapat menahan tekanan harga. Selain itu, pasokan hasil laut berpotensi meningkat seiring meredanya musim angin utara.
Bank Indonesia dan TPID optimistis dapat menjaga inflasi 2026 tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen melalui peningkatan produksi, penguatan kerja sama antar daerah (KAD), serta pelaksanaan pasar murah secara konsisten.***
