Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh peningkatan laba kotor sekitar 12 persen, seiring dengan penurunan beban pokok sekitar 7 persen atau setara US$ 54 juta. Selain itu, perusahaan juga berhasil memperbaiki beban keuangan dan selisih kurs secara signifikan.
Pendapatan Stabil, EBITDA Tetap Kuat
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, PGN membukukan pendapatan sebesar US$ 929,6 juta dengan EBITDA mencapai US$ 240,6 juta. Kinerja ini tetap solid meskipun pada periode tersebut tidak terdapat penjualan LNG pada segmen trading internasional.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kekuatan bisnis inti PGN di sektor niaga dan infrastruktur gas bumi masih menjadi tulang punggung utama perusahaan. Dengan strategi yang tepat, PGN mampu menjaga profitabilitas melalui efisiensi operasional, disiplin keuangan, serta portofolio bisnis yang seimbang.
Distribusi Gas Tetap Andal, Jangkau Ratusan Ribu Pelanggan
Dari sisi operasional, PGN mencatat volume penyaluran gas bumi sebesar 777 BBTUD, sementara volume transmisi mencapai 1.539 MMSCFD. Perusahaan mengelola distribusi ini secara optimal untuk memastikan pasokan gas tetap terjaga bagi pelanggan di seluruh Indonesia.
Keandalan infrastruktur PGN juga tetap berada di level tinggi, yaitu 99,9 persen. Hal ini mendukung layanan kepada lebih dari 825 ribu pelanggan, yang terdiri dari 822.561 rumah tangga, 2.842 pelanggan kecil, serta 3.310 pelanggan industri dan komersial.
Strategi Domestik Jadi Kunci Stabilitas
Direktur Keuangan PGN, Catur Dermawan, menegaskan bahwa model bisnis berbasis ekosistem domestik menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas perusahaan.
Menurutnya, PGN terus memastikan layanan energi tetap andal melalui pengelolaan infrastruktur dan distribusi gas yang terintegrasi. Pendekatan ini dinilai efektif dalam menghadapi dinamika pasokan dan kebutuhan energi nasional.
LNG Jadi Penopang Fleksibilitas Pasokan
Untuk menjaga kontinuitas pasokan, PGN juga memanfaatkan Liquefied Natural Gas (LNG) secara terukur sebagai pelengkap sistem distribusi. Perusahaan mencatat volume jasa regasifikasi sebesar 115 BBTUD melalui FSRU Lampung, 148 BBTUD dari fasilitas LNG Arun, serta 292 BBTUD dari FSRU Jawa Barat.
Seluruh fasilitas tersebut dikelola secara terintegrasi untuk memastikan sistem distribusi gas nasional tetap berjalan optimal, bahkan di tengah kondisi pasokan yang dinamis.
Keuangan Sehat, Arus Kas Positif
Di tengah tekanan global seperti fluktuasi nilai tukar dan harga energi, PGN tetap menjaga kondisi keuangan yang sehat. Perusahaan berhasil menekan beban keuangan menjadi US$ 13,7 juta, sekaligus mempertahankan rasio keuangan yang kuat.
Rasio EBITDA terhadap beban bunga tercatat sebesar 20,75 kali, sementara debt to equity ratio berada di level 29 persen. Selain itu, PGN juga mencatat arus kas operasional positif sebesar US$ 86,9 juta, yang mencerminkan ketahanan finansial perusahaan.
Siap Perluas Jaringan dan Dukung Energi Bersih
Ke depan, PGN akan terus memperkuat infrastruktur jaringan pipa serta mengembangkan layanan beyond pipeline seperti LNG dan Compressed Natural Gas (CNG). Selain itu, perusahaan juga memperluas jaringan gas rumah tangga (jargas) guna meningkatkan akses energi bersih dan terjangkau.
Langkah ini sejalan dengan peran gas bumi sebagai energi transisi dalam mendukung target Net Zero Emission serta kebijakan energi nasional.
“PGN akan terus menjaga keseimbangan antara keandalan layanan, efisiensi operasional, dan kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan guna mendukung ketahanan energi nasional,” tutup Catur.***
