Batamramah.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat peran sektor jasa keuangan sebagai akselerator utama pertumbuhan ekonomi daerah. Langkah strategis ini ditempuh melalui penyediaan pembiayaan yang lebih inklusif, produktif, dan tepat sasaran, dengan fokus utama pada sektor-sektor unggulan yang berbasis potensi lokal di seluruh wilayah Indonesia.
Sinergi antarlebaga yang kokoh antara OJK, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Pemerintah Daerah, serta Industri Jasa Keuangan (IJK) menjadi pilar penting dalam mempercepat realisasi program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa berbagai tantangan dari dinamika global saat ini tidak boleh menurunkan optimisme bangsa. Menurutnya, momentum ini justru menjadi pembuktian bahwa salah satu kekuatan fundamental Indonesia terletak pada ketangguhan ekonomi di tingkat daerah.
Melalui Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) 2026 yang mengusung tema ‘Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor’ di Balai Kartini, Senin (25/5/2026), Friderica mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi demi menyokong pertumbuhan ekonomi nasional menuju Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.
Perhelatan akbar KNPED 2026 ini dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi negara, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Ketua Komisi XI DPR RI Mokhamad Misbakhun, Menteri Perdagangan Budi Santoso, Menteri UMKM Maman Abdurrahman, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, serta Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destri Damayanti.
Sejumlah kepala daerah juga turut hadir, seperti Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Gubernur Jambi Al Haris, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara Victor Mailangkay.
Sejak diluncurkan pada tahun 2024, Program PED bentukan OJK telah berfokus pada optimalisasi potensi lokal dengan membangun ekosistem pendukung yang terintegrasi. Hingga saat ini, program tersebut telah sukses diimplementasikan di 40 kabupaten dan kota di Indonesia, dengan konsentrasi pada sektor agrikultur dan ekonomi kreatif.
Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Hernawan Bekti Sasongko, menambahkan bahwa Program PED dirancang untuk memberikan kontribusi nyata yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar melalui penguatan ekosistem program prioritas di setiap daerah.
Sejalan dengan visi tersebut, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah pusat terus menggenjot penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk menstimulus roda ekonomi daerah. Pemerintah juga aktif mendorong digitalisasi ekonomi, pengembangan industri semikonduktor, akselerasi proses hilirisasi, serta penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang andal.
Pengaturan pembiayaan yang tepat sasaran ini dinilai Ketua Komisi XI DPR RI, Mokhamad Misbakhun, sangat krusial dalam memberdayakan UMKM dan menjaga daya beli masyarakat yang berkontribusi langsung pada Produk Domestik Bruto (PDB).
Ia juga mengapresiasi OJK atas konsistensinya dalam membangun akselerasi melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menggarisbawahi bahwa kekuatan ekonomi daerah tidak hanya diukur dari besarnya anggaran daerah, melainkan dari kemampuan mengubah anggaran tersebut menjadi layanan publik, produktivitas, hingga kesejahteraan tingkat rumah tangga.
Dalam operasionalnya, tahapan PED yang dijalankan OJK dimulai dari pemetaan potensi ekonomi unggulan lewat TPAKD, penyiapan kolaborasi multipihak, peningkatan kapasitas dukungan pembiayaan, hingga pemanfaatan produk keuangan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas daerah. Ekosistem ini idealnya melibatkan minimal tiga jenis lembaga jasa keuangan yang disesuaikan dengan kapasitas daerah setempat.
Keberhasilan program ini telah terlihat pada beberapa wilayah percontohan yang menggarap sektor agrikultur dan ekonomi kreatif secara masif.
Di Sumatera Selatan, PED difokuskan pada pengembangan ekosistem kopi hulu-hilir untuk mengoptimalkan potensi produksi nasional yang mencapai 832,7 ribu ton pada tahun 2025 dengan valuasi industri olahan mencapai Rp129 triliun.
Sementara di Jawa Timur, program diarahkan pada ekosistem susu sapi perah bernilai ekonomi Rp49,5 triliun guna mendukung rantai nilai pangan nasional melalui adopsi teknologi dan perluasan akses keuangan.
Untuk wilayah Jawa Tengah, OJK mendukung ketahanan pangan lewat komoditas padi, jagung, dan rajungan yang masuk dalam lingkaran potensi ekonomi pangan senilai Rp1.684 triliun. Sedangkan di DKI Jakarta, Program PED memacu pengembangan ekonomi kreatif, termasuk sektor perfilman dan konten digital, yang diproyeksikan memiliki potensi nilai ekonomi fantastis sebesar Rp2.130 triliun pada tahun 2029. Ke depan, OJK berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan Program PED ke berbagai wilayah lain di Indonesia, termasuk merambah sektor pariwisata, sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru berbasis rantai nilai yang kuat.
