BATAMRAMAH.COM — Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus memperkuat strategi pengendalian inflasi daerah sekaligus memacu digitalisasi sistem pembayaran. Upaya ini dilakukan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif, khususnya di sektor pariwisata dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepri, Rony Widijarto P., dalam agenda Bincang Bersama Media di Kantor BI Kepri, Batam Center, Kamis (25/6/2026) pagi.
Perubahan Pola Konsumsi Emas: Dari Perhiasan ke Investasi Digital
Dalam pemaparannya, Rony Widijarto menyoroti komoditas emas perhiasan yang kerap menjadi penyumbang utama andil inflasi di wilayah Kepri. Ia menjelaskan bahwa fenomena lonjakan harga emas dunia pada tahun 2025 telah mengubah pola perilaku masyarakat dalam memperlakukan logam mulia tersebut.
"Harga emas sempat naik sangat tinggi dengan pola yang sangat berbeda. Namun, saat ini beberapa di antaranya sudah mulai menunjukkan tren menurun," ujar Rony.
Menurut Rony, emas perhiasan secara nasional merupakan cerminan daya beli. Selama ini, masyarakat membeli emas dalam bentuk cincin, liontin, atau gelang untuk digunakan sekaligus sebagai instrumen lindung nilai atau tabungan. Kendati demikian, menjual kembali emas perhiasan memiliki risiko penurunan harga akibat biaya potong atau penyusutan.
Melihat fenomena tersebut, BI Kepri berkomitmen untuk memperluas edukasi kepada masyarakat mengenai alternatif investasi emas yang lebih aman dan transparan, seperti tabungan emas digital melalui perbankan syariah atau Pegadaian.
Melalui layanan perbankan digital (mobile banking), masyarakat dapat berinvestasi emas dengan nominal berapa pun tanpa harus mencapai berat 1 gram terlebih dahulu, serta mendapatkan transparansi harga yang diperbarui setiap jam.
"Masyarakat tetap bebas memilih. Namun bagi yang tujuannya murni untuk investasi jangka panjang, seperti naik haji atau biaya sekolah anak, menabung emas di perbankan syariah atau Pegadaian jauh lebih aman dan nyaman karena harganya jelas terpantau," tambahnya.
Dorong UMKM di Daerah Potensial Lewat Sektor Kuliner
Selain fokus pada stabilitas harga, BI Kepri menggarisbawahi pentingnya pemanfaatan sektor kuliner dan UMKM untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah yang masih menghadapi tantangan kemiskinan dan akselerasi ekonomi, seperti di Kabupaten Lingga, Natuna, dan Kepulauan Anambas.
Rony menyatakan bahwa keterlibatan UMKM kuliner tidak hanya berkontribusi langsung pada sektor pariwisata, melainkan juga memegang peranan krusial dalam upaya stabilisasi harga bahan pangan melalui tata kelola rantai pasok yang baik.
Akselerasi QRIS Kepri Lampaui Pertumbuhan Nasional
Sebagai bagian dari implementasi program transformasi digital, BI Kepri mencatat pertumbuhan volume transaksi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di wilayah Kepri yang tumbuh signifikan melampaui rata-rata nasional.
Berdasarkan data BPS dan BI, total volume transaksi QRIS di Kepri pada tahun 2024 tercatat sebesar 33,94 juta transaksi. Angka ini melonjak tajam hingga 100% pada tahun 2025 dengan mencapai 99,4 juta transaksi.
Tren positif ini berlanjut hingga periode berjalan tahun 2026. Sampai dengan April 2026, volume transaksi QRIS di Kepri sudah mencapai 43,12 juta transaksi, atau tumbuh sebesar 138% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Secara nominal, nilai transaksi QRIS di Kepri melesat dari Rp5,03 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp11,5 triliun pada tahun 2025. Per April 2026, nilai transaksi yang tercatat bahkan sudah menyentuh angka Rp5,11 triliun.
"Pertumbuhan volume transaksi kita konsisten berada di atas pertumbuhan nasional. Ini menunjukkan tingkat adopsi digitalisasi masyarakat di pasar tradisional maupun modern di Kepri sudah sangat tinggi," jelas Rony.
Turis Malaysia dan Singapura Manfaatkan QRIS Cross-Border untuk Kuliner
Layanan ini mempermudah pelancong internasional untuk berbelanja langsung di Batam dan wilayah Kepri lainnya menggunakan aplikasi perbankan asal negara mereka.
Hingga saat ini, wisman asal Malaysia dan Singapura menjadi pengguna terbesar layanan QRIS lintas batas di Kepri.
Data BI menunjukkan jumlah transaksi wisman Malaysia di Kepri pada tahun 2025 mencapai lebih dari 186 ribu transaksi, melonjak hingga 520% dibandingkan periode awal pengenalan program.
Dari sisi nominal belanja, transaksi wisman Malaysia naik drastis dari ratusan juta rupiah di tahun 2023 menjadi Rp55 miliar pada tahun 2025, dan telah mencapai Rp403,78 miliar hanya dalam kurun waktu empat bulan pertama di tahun 2026.
Rony mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis data transaksi, aktivitas belanja para wisman tersebut didominasi oleh pengeluaran di sektor makanan, minuman, dan restoran (kuliner).
Merespons potensi besar ini, BI akan menyelenggarakan program serentak berskala nasional yang fokus pada akselerasi sistem pembayaran digital di sektor pariwisata.
"Dalam waktu dekat kami akan menggelar event 'Kris Jelajah Indonesia' dengan tema jelajah kuliner Nusantara. Fokus utamanya adalah mendorong kemudahan bertransaksi praktis menggunakan QRIS bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus memperkuat devisa negara," pungkas Rony.(bos)


