Klarifikasi Proyek Pulau Kasu: Toko Material Pastikan Seluruh Tagihan Sudah Klir Sebelum Juni



Batamramah.com, BATAM – Pemilik toko material PT Logam Jaya Sejahtera, Rika, akhirnya angkat bicara guna meluruskan polemik yang menyeret namanya dalam perselisihan antara masyarakat Pulau Kasu dan Gubernur LSM Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Kepri, Yusril Koto. 

Rika menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah melayangkan pengaduan kepada pihak mana pun terkait persoalan pembayaran bahan bangunan untuk proyek batu miring di pulau tersebut. 

Saat ditemui di tempat usahanya di kawasan Tiban, Kamis (18/6/2026), wanita berkacamata ini mengaku terkejut lantaran nama perusahaannya mendadak dicatut sebagai sumber informasi yang memicu kegaduhan publik.

Rika memaparkan bahwa tudingan miring yang beredar di tengah masyarakat sangat bertolak belakang dengan fakta yang sebenarnya. Dirinya memastikan tidak pernah membeberkan masalah internal usahanya kepada pihak luar. 

"Saya sendiri tidak pernah cerita soal itu ke siapa pun selain ke suami saya. Memang ada tagihan, tapi sudah selesai semuanya pada 21 Mei kemarin," ujar Rika meluruskan simpang siur informasi. 

Ia membenarkan bahwa PT Logam Jaya Sejahtera bertindak sebagai pemasok material untuk proyek batu miring tersebut dengan total nilai transaksi menyentuh angka Rp300 juta. 

Namun, ia menekankan bahwa nominal itu bukanlah tunggakan utuh karena sebagian besar pembayaran telah dicicil secara tunai seiring berjalannya pengiriman barang.

Seluruh sisa kewajiban keuangan dipastikan telah diselesaikan secara tuntas oleh pihak pemesan sebelum riuh tuntutan warga merebak pada Juni 2026. Pelunasan sisa tagihan tersebut ditunaikan langsung oleh penanggung jawab pesanan tanpa menyisakan masalah. 

"Pak Hajad Sudrajad yang memesan material sudah membayar semuanya. Jadi pada Mei kemarin persoalannya sudah klir dan tidak ada masalah lagi," tuturnya. 

Dengan rampungnya transaksi tersebut, Rika membantah keras adanya komunikasi atau laporan yang ia sampaikan kepada lembaga swadaya masyarakat maupun organisasi kepemudaan mana pun, serta mengaku heran namanya bisa dikaitkan dengan konflik horizontal yang tengah berkembang.

Sebagai pelaku usaha, Rika menegaskan posisinya yang netral dan murni bergerak di bidang perniagaan komersial tanpa mencampuri urusan pelaksanaan teknis maupun dinamika sosial di lapangan. Pihaknya hanya berfokus melayani setiap konsumen yang datang membeli komoditas bangunan secara profesional seperti transaksi jual beli pada umumnya. 

"Kalau ada yang datang membeli material, kami layani seperti biasa. Kami tidak mencari tahu material itu dipakai untuk proyek apa atau ke mana perginya. Jadi saya tidak tahu soal keributan itu dan tidak ada hubungannya dengan saya," pungkas Rika mengakhiri klarifikasinya.
Lebih baru Lebih lama