Batamramah.com, BATAM – Warga Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, angkat bicara pasca-menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Kantor Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Kepri di Batam Center.
Langkah ini diambil guna meluruskan polemik seputar tudingan miring terhadap pembangunan jalan, masjid, dan pesantren swadaya masyarakat di pesisir hinterland yang sempat dicap sebagai "proyek siluman".
Perwakilan masyarakat Pulau Kasu, Dani, menegaskan bahwa hingga saat ini sama sekali belum pernah ada kesepakatan damai antara pihak warga dengan Gubernur LSM Lira Kepri, Yusril Koto.
Ia membantah klaim yang menyebutkan telah ada pergerakan menuju islah dari garis massa demonstran.
"Bagaimana mau damai, sampai saat ini kami belum bertemu dengan Yusril Koto. Yang dikatakan ada permintaan damai yang disampaikan tadi, itu bukan dari kami," ujar Dani kepada awak media, Kamis (18/6/2026).
Dani memaparkan, warga pulau sejak awal menantang Yusril Koto untuk membuktikan secara transparan di mana letak kejanggalan atau status "siluman" dari proyek yang dipermasalahkan tersebut. Sayangnya, hingga riuh demonstrasi pecah, tidak ada satu pun bukti fisik yang dipaparkan ke publik.
Padahal, sebelum menggelar aksi massa, warga telah melayangkan undangan resmi agar yang bersangkutan turun langsung ke lapangan guna meninjau lokasi. Namun, itikad baik tersebut diabaikan tanpa respons.
"Sebelum itu kami sudah mengundang secara resmi agar beliau menunjukkan proyek siluman yang dia katakan, tetapi tidak datang," cetusnya.
Lebih jauh, Dani menyayangkan narasi sepihak tersebut karena berpotensi melahirkan sentimen negatif di tengah publik Batam terhadap geliat pembenahan infrastruktur di wilayah pesisir.
Ia menjelaskan bahwa semenisasi jalan lingkar di tepi pantai Pulau Kasu murni merupakan urat nadi mobilitas warga, mulai dari jalur distribusi logistik rumah tangga hingga akses utama anak-anak menuju sekolah. Kendati tidak mengetahui rincian teknis sumber penganggarannya, Dani menegaskan pembangunan infrastruktur ini merupakan impian kolektif masyarakat hinterland sejak generasi terdahulu.
Terkait realisasi mimpi itu, Dani tidak menampik jika warga sempat menyampaikan aspirasi langsung kepada Ketua DPRD Kepri, Iman Sutiawan, agar ikut menjembatani pencarian donatur atau sokongan anggaran yang sah sesuai fungsi kedewanan.
Meski situasi sempat memanas, masyarakat Pulau Kasu mengaku tetap membuka pintu komunikasi apabila Yusril Koto bersedia duduk bersama mengurai benang kusut ini secara kekeluargaan.
"Kalau memang untuk berdiskusi, kami siap duduk bersama. Kami membuka ruang dialog agar permasalahan ini bisa dibahas dengan baik. Tentunya kami juga tidak ingin persoalan ini semakin melebar ke mana-mana, serta berharap kondusivitas Kota Batam tetap terjaga," pungkas Dani.
