Salah satu hal yang mencuri perhatian adalah seragam yang dikenakan para peserta. Rapi, seragam, dan penuh identitas. Menariknya, seragam tersebut disiapkan langsung oleh panitia dan diberikan secara gratis.
Di balik selembar kain itu, tersimpan makna yang lebih dalam. Bagi para peserta, seragam bukan sekadar pakaian.
Seragam menjadi simbol kebersamaan, kesetaraan, sekaligus dukungan moral dalam menjalani proses uji kompetensi yang tidak mudah.
“Rasanya lebih percaya diri. Kami seperti satu tim, tidak ada perbedaan,” ujar salah satu peserta, menggambarkan suasana yang tercipta sejak awal kegiatan.
Langkah panitia KJK ini pun menuai apresiasi. Di tengah berbagai keterbatasan yang kerap dihadapi jurnalis daerah, perhatian kecil seperti ini justru menghadirkan dampak besar.
Peserta tidak hanya datang untuk diuji, tetapi juga merasa dihargai dan diperhatikan.
Lebih dari itu, pemberian seragam gratis mencerminkan semangat inklusif yang ingin dibangun KJK.
Kompetensi wartawan tidak boleh terhalang oleh faktor ekonomi maupun keterbatasan fasilitas.
Seragam yang Menyatukan
Di ruang-ruang ujian, para peserta terlihat fokus mengerjakan tugas.
Namun, di sela-sela itu, obrolan ringan, tawa, dan saling menyemangati menjadi warna tersendiri.
Seragam yang sama seolah menghapus sekat.
Para peserta tidak lagi sekadar datang sebagai individu, tetapi menjadi bagian dari keluarga besar jurnalis Kepri.
UKW bukan hanya tentang lulus atau tidak lulus.
UKW merupakan proses pembuktian diri, peningkatan kualitas, sekaligus bentuk komitmen terhadap profesi.
Di KJK, proses itu dimulai dengan pesan sederhana: semua peserta setara dan semua berhak mendapatkan kesempatan terbaik.
Seragam gratis itu mungkin sederhana. Namun, bagi peserta UKW KJK Angkatan I 2026, seragam tersebut menjadi simbol awal perjalanan menuju profesionalisme yang lebih tinggi.
Mereka melangkah dengan seragam yang sama, semangat yang sama, dan tekad untuk tumbuh bersama. (lohan)

