RESUN – Gemericik air terdengar bahkan sebelum Air Terjun Resun benar-benar terlihat.
Suara itu perlahan semakin jelas ketika langkah mulai mendekati aliran sungai. Di sekelilingnya, pepohonan tumbuh rapat. Udara terasa lebih sejuk. Sementara air jernih mengalir melewati bebatuan, lalu jatuh membentuk jeram-jeram kecil di tengah rimbunnya hutan.
Begitulah suasana yang menyambut rombongan media dari Batam saat tiba di Desa Resun, Kabupaten Lingga, Senin (10/8/2026).
Perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar 25 menit dari Pelabuhan Sei Tenam. Jalan yang dilalui membawa rombongan semakin jauh dari suasana pelabuhan dan permukiman.
Sebagai gantinya, lanskap Pulau Lingga mulai didominasi pepohonan hijau dan perbukitan.
Kemudian, suara air menjadi penanda bahwa perjalanan hampir tiba di tujuan.
Rombongan datang dalam agenda Road to Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026 bersama Bank Indonesia. Namun, perjalanan kali ini terasa lebih dari sekadar agenda kunjungan.
Di Resun, rombongan diajak melihat sisi lain Lingga.
Bukan hanya pulau dengan laut yang membentang luas, tetapi juga daerah yang menyimpan pegunungan, sungai, hutan, dan air terjun.
Air Jernih dari Gunung Sepincan
Air Terjun Resun berada di kawasan Gunung Sepincan.
Bagi pencinta alam, kawasan ini menarik karena tidak hanya menawarkan air terjun. Lanskap pegunungan di sekitarnya juga menjadi bagian dari jalur petualangan menuju sejumlah kawasan perbukitan, termasuk Bukit Permata.
Saat rombongan tiba, perjalanan baru sampai di tingkat pertama air terjun.
Air terus mengalir dari bagian atas kawasan pegunungan. Karena itu, air terjun ini tidak berhenti pada satu titik saja.
Lazuardi, pegawai Dinas Kebudayaan Lingga yang memandu rombongan, mengatakan masyarakat setempat memiliki penyebutan berbeda mengenai jumlah tingkatan Air Terjun Resun.
"Sebagian menyebutnya terdiri atas lima tingkat, terutama jika yang dihitung hanya bagian air terjun utama. Namun, sebagian besar masyarakat meyakini aliran air terjun ini memiliki hingga tujuh tingkatan yang memanjang ke bagian atas aliran sungai," ungkapnya.
Penjelasan tersebut membuat perjalanan ke Resun terasa seperti membuka satu per satu bagian dari sebuah lanskap yang belum sepenuhnya dijelajahi.
Apa yang terlihat dari tingkat pertama ternyata baru sebagian kecil dari perjalanan air yang mengalir dari kawasan Gunung Sepincan.
Tiga Gunung, Banyak Aliran Air
Pesona Air Terjun Resun tidak berdiri sendiri.
Keberadaannya berkaitan erat dengan karakter geografis Pulau Lingga yang memiliki kawasan pegunungan.
Setidaknya ada tiga gunung yang menjadi bagian penting dari bentang alam Pulau Daik, yakni Gunung Daik, Gunung Tanda, dan Gunung Sepincan.
Ketiga kawasan tersebut memiliki aliran sungai dan air terjun dengan karakter berbeda.
Lazuardi menjelaskan hal itu.
"Karena kita ada tiga gunung di sini, Gunung Tanda, Gunung Daik, dan Gunung Sepincan. Masing-masing memiliki aliran sungai dan air terjun," ujar Lazuardi.
Itulah salah satu kejutan ketika menjelajahi Lingga.
Daerah kepulauan ini memang identik dengan laut. Namun, begitu masuk lebih jauh ke daratan, wisatawan justru menemukan bentang alam yang berbeda.
Gunung, hutan, sungai, dan air terjun menjadi bagian dari perjalanan.
Setiap Air Terjun Punya Cerita
Resun hanyalah salah satu dari sejumlah air terjun yang dikenal masyarakat Lingga.
Di kawasan Pulau Daik, ada Air Terjun Kado dan Air Terjun Tanda.
Sementara untuk air terjun dengan medan yang lebih menantang, masyarakat mengenal Air Terjun Jelutung.
Namun, perjalanan menuju Jelutung membutuhkan persiapan lebih.
Akses jalan darat belum tersedia hingga lokasi. Pengunjung harus menggunakan perahu pompong menuju Desa Mentuda sebelum melanjutkan perjalanan menuju kawasan air terjun.
Petualangan menuju Air Terjun Tanda juga tidak kalah menarik.
Dari kawasan tersebut, wisatawan bisa melihat laut sekaligus permukiman dari ketinggian.
Namun, perjalanan menuju lokasinya masih membutuhkan tenaga. Pengunjung harus berjalan kaki sekitar satu jam dengan jarak kurang lebih empat kilometer karena kendaraan belum dapat mencapai kawasan air terjun.
Kondisi itu justru membuat setiap air terjun di Lingga memiliki karakter masing-masing.
Ada yang cocok untuk wisatawan yang ingin menikmati alam dengan akses mudah. Ada pula yang menawarkan perjalanan lebih panjang bagi mereka yang mencari pengalaman petualangan.
Resun, Air Terjun yang Mudah Dijangkau
Dibandingkan sejumlah air terjun lainnya, Resun memiliki satu keunggulan penting: aksesnya relatif mudah.
Kendaraan sudah dapat mencapai kawasan wisata.
Bagi wisatawan yang tidak ingin melakukan trekking panjang, kondisi ini tentu menjadi nilai tambah.
Pengunjung bisa datang untuk menikmati suasana alam, mendengarkan suara air, merasakan udara yang lebih sejuk, atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga.
Kemudahan akses tersebut juga membuat jumlah wisatawan terus meningkat.
Jika beberapa tahun lalu kawasan ini cenderung sepi, kini suasananya mulai berbeda. Pada akhir pekan dan hari libur, wisatawan datang silih berganti.
Lazuardi mengatakan perubahan itu mulai terasa.
"Alhamdulillah, sekarang ini kalau hari libur, Sabtu, Minggu, maupun hari libur kantor, wisatawan terus datang. Jadi tidak sepi, air terjun ini selalu dikunjungi," ungkapnya.
Bagi masyarakat setempat, meningkatnya kunjungan tentu menjadi peluang.
Bagi wisatawan, kondisi tersebut menjadi tanda bahwa Resun semakin dikenal sebagai salah satu tujuan wisata alam di Lingga.
Ketika Resun Dipenuhi Ribuan Orang
Suasana Desa Resun juga tidak selalu identik dengan ketenangan.
Pada 12 Agustus 2026, kawasan ini diperkirakan ramai oleh masyarakat yang datang mengikuti tradisi setempat yang dikenal warga sebagai Mandi Safar.
Jumlah pengunjung dalam perayaan tersebut bahkan dapat mencapai ribuan orang.
Perpaduan antara wisata alam dan tradisi masyarakat membuat Resun memiliki daya tarik yang berbeda.
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat air terjun. Mereka juga berkesempatan mengenal kehidupan dan budaya masyarakat yang tumbuh di sekitar kawasan tersebut.
Inilah yang membuat perjalanan ke Lingga terasa lebih lengkap.
Alam menjadi pintu masuk. Budaya kemudian menjadi cerita yang membuat perjalanan lebih berkesan.
Tak Perlu Menyiapkan Anggaran Besar
Menariknya, untuk menikmati suasana Air Terjun Resun, wisatawan tidak perlu menyiapkan biaya besar.
Saat ini, tiket masuk berada di kisaran Rp2.000, ditambah biaya parkir.
Pemerintah dan pengelola setempat juga tengah menyosialisasikan rencana penyesuaian tarif menjadi sekitar Rp5.000.
Dengan biaya tersebut, pengunjung bisa menikmati suasana alam di kawasan Gunung Sepincan tanpa harus mengeluarkan anggaran besar.
Tentu saja, wisatawan tetap perlu menyiapkan perlengkapan sederhana, seperti alas kaki yang nyaman, pakaian ganti, air minum, dan menjaga barang pribadi agar tetap aman selama berada di sekitar aliran air.
Yang paling penting, jangan meninggalkan sampah.
Sebab, daya tarik utama Resun justru berada pada kesan alaminya.
Ada Wajah Lain Lingga di Balik Laut
Perjalanan ke Resun memberi satu kesan kuat: Lingga tidak hanya tentang laut.
Di balik garis pantainya, ada dunia lain yang menunggu untuk dijelajahi.
Ada Gunung Sepincan yang menjadi sumber aliran air. Ada hutan hijau yang membuat perjalanan terasa sejuk. Ada sungai yang mengalir melewati bebatuan. Ada air terjun yang jatuh bertingkat-tingkat.
Dan ada masyarakat yang menjaga cerita tentang tempat itu dari generasi ke generasi.
Bagi rombongan media Road to GMP 2026, perjalanan ke Resun akhirnya bukan sekadar persinggahan.
Gemericik air menjadi suara pembuka. Hijaunya hutan menjadi pemandangan sepanjang perjalanan. Sementara cerita tentang gunung, air terjun, dan tradisi masyarakat menjadi bagian dari pengalaman yang dibawa pulang.
Jika selama ini Lingga hanya dibayangkan sebagai gugusan pulau dengan laut yang indah, Resun memperlihatkan sisi yang berbeda.
Di sinilah perjalanan bisa dilanjutkan dari pesisir menuju pegunungan.
Dan ketika suara air mulai terdengar dari balik pepohonan, wisatawan akan tahu bahwa ada satu lagi cerita Lingga yang sedang menunggu untuk ditemukan.


