BATAMRAMAH.COM- Otak-otak basi membuat seorang wisatawan kecewa setelah membeli makanan khas Kepulauan Riau itu di pintu gerbang Pelabuhan Tanjungpinang, Minggu (30/8/2026).
Ia membeli sekotak otak-otak seharga Rp 50 ribu, untuk menjadi camilan selama perjalanan dari Tanjungpinang menuju Batam menggunakan kapal feri. Namun, saat hendak menyantapnya, ia justru menemukan banyak otak-otak yang sudah tidak layak konsumsi.
“Rasanya sudah tak enak, basi. Lebih banyak yang basi daripada yang bagus,” ungkapnya dengan nada kesal.
Oleh-Oleh Khas yang Mudah Ditemukan
Otak-otak sudah lama menjadi salah satu makanan khas yang banyak dicari wisatawan saat berkunjung ke Tanjungpinang dan Bintan.
Pedagang menjualnya di berbagai lokasi. Bahkan, wisatawan dapat dengan mudah menemukan penjual otak-otak di sekitar pintu gerbang pelabuhan.
Makanan ini biasanya menggunakan ikan atau sotong yang dihaluskan. Kemudian, adonan dicampur tepung dan bumbu. Setelah itu, pedagang membungkusnya menggunakan daun kelapa sebelum membakarnya hingga matang.
Cita rasanya yang khas membuat otak-otak kerap menjadi pilihan untuk oleh-oleh maupun camilan dalam perjalanan.
Temukan Banyak yang Basi
Namun, pengalaman seorang wisatawan justru berbeda.
Ia berharap pedagang tidak menjual makanan yang sudah tidak layak konsumsi. Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya merugikan pembeli, tetapi juga dapat memengaruhi kesan wisatawan terhadap Tanjungpinang.
“Ini jelas menimbulkan imej jelek bagi pariwisata Tanjungpinang. Karena jelas otak-otak ini makanan yang dijadikan oleh-oleh atau camilan khas. Masak dijual meski sudah basi,” ujarnya.
Ia pun meminta pemerintah ikut mengingatkan dan membina pedagang makanan, khususnya penjual oleh-oleh khas daerah.
Jangan Rusak Citra Kuliner Daerah
Menurutnya, pedagang harus lebih memperhatikan kualitas produk yang mereka jual.
Ia juga mengingatkan agar pedagang tidak menjual makanan yang sudah tidak layak hanya demi menghabiskan stok.
“Ini bisa menjadi kesan yang sangat negatif dan merugikan pedagang lainnya. Jadi pemerintah harus bisa melakukan pembinaan dan masukan bagi pedagang agar lebih jujur. Jangan barang yang sudah tidak layak tapi masih dijual,” ucapnya.
Keluhan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas makanan ikut menentukan pengalaman wisatawan.
Sebab, bagi wisatawan, oleh-oleh bukan sekadar makanan. Produk khas daerah juga menjadi bagian dari kesan yang mereka bawa pulang.
Karena itu, menjaga kualitas otak-otak bukan hanya soal menjaga kepuasan pembeli. Langkah tersebut juga penting untuk mempertahankan citra kuliner dan pariwisata Tanjungpinang.(bos)
